Mural Harley Davidson

April 1, 2009

p2113358

mural at Front wall Mabua Harley-Davidson blok M Jakarta


duo exhibition

Desember 23, 2008


3 perahu

November 5, 2008

img_0895-320x244 my water color painting


Mural at Pyramisa Clark Quay

Oktober 16, 2008

done by  2 days, i realy love the window …….

(how about you? the girl or the window? hahhahaha)


muralmuralmural

Oktober 16, 2008

   wow look at the glass………. 

 mural at Philippe house. 50 faces, all family member and friends.

hey how are you there philippe ?


mural Fly over East Jakarta

Oktober 16, 2008

Prohagraphic, HAH project !

Hidup Opaepik

woooyyyooooo…!


The Great-Paintings Channel

Oktober 10, 2008
nice airbrush painting, potrait of salvador dali, with jiung song “gaple”. step by step airbrush, art of MG pringgotono
 

Murals turns bland concrete into art

Oktober 10, 2008

The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Fri, 12/23/2005 4:54 PM  |  Life

Evi Mariani, The Jakarta Post, Jakarta

A white-and-red cardboard box with the letters “”WA”" printed on the top arrived in Jakarta from France some weeks ago carrying the materials and instructions for the putting on of an extraordinary mural exhibition here in the capital.

Freeing paintings and drawings from canvas and paper, the exhibition, arranged by the French Cultural Center (CCF) and RuangRupa, uses walls in public spaces and commercial centers for the exhibition of nine mural drawings, four by French artists and five by Indonesian artists. ……

…..The local artists, Brama Oktiawan, Aditya Surya Taruna, Ary Buy Shandra, Mg Pringgotono, and Chairul Insan, projected slides of the paintings on the wall, carefully following the lines, and consulting with the original artists should any difficulties arise.

reed more


PERSEPSI……….

Oktober 10, 2008

sumber : Sinar Harapan (Copyright © Sinar Harapan 2003)

Benda Sehari-hari
Berbeda dengan Andry, MG Pringgotono yang berasal dari Jakarta banyak menggunakan peralatan sehari-hari yang terdapat dalam sebuah rumah. Sederhana memang. Laki-laki berusia 22 tahun tersebut membuat sebuah benda menjadi karya seni hanya dengan memindahkan tempat benda tersebut. Semua tanpa menjadikan eksotisme tahun ’60-an tentang pertarungan antara benda yang seni dan yang bukan seni, tentang menemukan benda sehari-hari yang kemudian terasa menggemaskan dan mempunyai arti berbeda jika berada di galeri. Semua benda sehari-hari menjadi sebuah karya seni karena konteks ”pindah ruang”-nya.
Lihatlah bagaimana sebuah panci besar dengan kolak pisang di dalamnya terpajang di ruangan itu. Biasa saja. Pada awalnya mungkin terlihat sebagai suguhan untuk para pengunjung. Tapi lihatlah perbedaannya ketika diletakkan sikat kamar mandi dan diletakkan di sebuah meja khusus. Panci, kolak pisang, dan sikat kamar mandi punya fungsi sendiri-sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi bagaimana jika si sikat diletakkan di kolak? Katakanlah semua persepsi. Orang melihat sikat kamar mandi hanya berkaitan dengan kamar mandi. Begitu benda tersebut dicampur pada makanan, sikat kamar mandi tersebut menjadi sangat tidak pantas. Kesan jijik bercampur tak higienis timbul. Orang akan kehilangan selera melihatnya meski sikat tersebut baru dan telah melalui proses steril yang cukup panjang. Berbeda jika sikat kamar mandi tersebut diganti dengan sendok sayur, misalnya, tentu kesan yang ditimbulkan berbeda.
Barisan patung tentara yang dipasang hingga berakhir pada sebuah patung komandan ternyata memiliki arti tersendiri. Mereka diciptakan untuk mengarahkan masyarakat menuju sesuatu yang diinginkan. Misalnya pengarahan bagi masyarakat untuk menggunakan produk cairan antiseptik sebelum memegang makanan. Apa sebenarnya kandungan cairan itu? Apakah benar-benar dapat menghilangkan kuman? Padahal, di dalam mulut manusia terdapat enzim yang justru dapat membunuh kuman. Jadi, pentingkah cairan tersebut bagi kesehatan manusia? Tapi sang produsen justru berhasil melakukan sesuatu yang menggiring masyarakat untuk menggunakan produk tersebut. Sekali lagi, ini hanya sebuah contoh persepsi terhadap sebuah karya, setiap orang bebas memberikan arti pada setiap benda di ruangan tersebut. (str/mila novita)

baca selengkapnya  http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/05/hib01.html


Jebor OK.VIDEO Jakarta International Video Festival 2007

Oktober 10, 2008

   

Workshop di Jatiwangi berlangsung pada 9-15 April 2007. Bekerjasama dengan komunitas Jatiwangi Art Factory (JAF) yang berdiri sejak September 2005 dengan kegiatan kesenian yang sangat beragam mulai musik sampai senirupa. Workshop ini melibatkan masyarakat setempat dan para pekerja genteng pada pabrik-pabrik. Workshop OK. Video Militia ini juga merupakan salah satu cara JAF untuk mengembangkan media audio-visual demi pemberdayaan masyarakat.

Workshop di Jatiwangi diikuti oleh tujuh orang peserta dan menghasilkan delapan video, antara lain; Jebor, karya video musik dengan visualisasi proses pembuatan genteng. JTW: “Ternyata Ada”, sebuah video yang terbagi dalam dua bagian, ‘Jakarta Kalah Pagi’ dan ‘Pabrik Gula’. Dihasilkan pula dua video performance yaitu Panda Mencuri Genteng dengan ide dasar berupa berupa kamera pengintai yang ‘menangkap’ seseorang mencuri genteng. Video Sagala Dipacok menggunakan still foto tentang keseharian masyarakat Jatiwangi. Anu Bade Dongkap adalah sebuah permainan dengan menggunakan alat tradisional pembuat genteng yang menghasilkan suara-suara musikal. Oyes, video tentang istirahat pekerja; CBSA, kritik terhadap birokrasi pendidikan di Jatiwangi; dan Bang-bang, video tentang sikap anak-anak Jatiwangi terhadap keadaan kotanya kini.

Participants: Agus, Aria Kamandanu, Anex, De Mung, Ibrahim Annas, Loranita, Nico Broer
Mentors: MG Pringgotono & Mahardhika Yudha

 

Membangun Komunitas yang ‘Nakal’ dan Mandiri

Oktober 10, 2008

sumber :http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MTk5OA==

Media Indonesia, Rabu, 14 Mei 2008 00:05 WIB

SHARE dan room, itulah kata yang membentuk Serrum, sebuah komunitas seni di Jakarta. Filosofinya, dengan ruang berbagi, mencoba mencari penawarnya (seperti serrum dalam arti kata sebenarnya, penawar racun).
Dunia kampus memang tak bisa dilepaskan dari mereka yang mendirikan Serrum. Pasalnya, semuanya adalah para penghuni tetap kampus. Sebelum mendirikan Serrum, mereka sering berkumpul, kuliah, tidur, hura-hura, digigit nyamuk, pokoknya susah senang bareng di tempat yang sama, yaitu kampus di Jurusan Seni Rupa UNJ. Mereka pun sering bikin acara pameran, art project, coret-coret, dan hura-hura di kampus. Kegiatan yang sering dilakukan mereka sebut dengan ‘bikin gara-gara’.

Edukasi dan sosial
Pertama kali Serrum terbentuk, dengan membentuk susunan departemen ala kadarnya, seperti ada departemen cetak dan noncetak, departemen komersial dan nonkomersial, serta bendahara. Tetapi sekarang sudah cukup berkembang dengan dilaksanakannya berbagai kegiatan. Serrum ada disebabkan dua program terdahulunya yaitu propagraphic movement dan project_or, mungkin kalau untuk idealisme dalam seni mereka pertahankan kedua program tersebut. Namun, untuk saat ini program Serrum bertambah ke idealisme untuk edukasi dan sosial.
Untuk art project, kerja samanya beberapa kali dengan Ruangrupa, Galeri Nasional, teman-teman di Scene Street Art Jakarta, pusat kebudayaan seperi CCF dan Goethe Institute, kemudian beberapa kali bekerja sama dengan Walhi, Jatam, Plan, Pec, dan IGJ.
Anggota Serrum pada awalnya ada MG Pringgotono, Arief Kurniawan (sekarang sedang tinggal sementara di Belanda), Arief Rachman (sudah lulus jadi Spd), RM Herbowo, JJ Adibrata, M Sigit Budi S, dan Gunawan Wibisono kemudian bertambah oleh Winanda Suciyadi, Ronald Qodariansyah, Wawan Setiawan, dan Luthfie Sabdakir.

baca selanjutnya…..

—————————————————————————

Baca entri selengkapnya »


SATURDAY NIGHT FEVER

Oktober 10, 2008

ruangrupa & Project_Or, presents:
SATURDAY NIGHT FEVER
a project by student organitation, Project_Or

opening: Saturday, 25 November 2006 (19.30)
exhibition – open daily: 26 November – 01 December 2006 (11.00 – 19.00)
at ruangrupa

Artists:
Rino Mafinda//Arief Widiarso//Andika Hadie P.//Sukarno Manggalatama//Ardhi Saputro//Fidelia Octavirani

In this exhibition program, ruangrupa invited PROJECT_OR to present their recent project “Saturday Night Fever”. This project intensively developed in three weeks by five young artists from Universitas Negeri Jakarta. They give their own interpretation on the theme “Saturday night” and trying to make a relation with personal experiences, specific sites, and the relation between the city with saturday night.

Dalam program pameran ini, ruangrupa mengundang Project_or untuk mempresentasikan project terbaru mereka, “Saturday Night Fever”. Project ini dikerjakan secara intens selama tiga minggu. Lima seniman muda dari Universitas Negeri Jakarta yang terlibat dalam project ini memberikan interpretasinya masing-masing tentang “malam minggu”. Mereka mencoba merelasikan pengalaman individual, situs spesifik, dan hubungan antara kota dengan malam minggu.
Karya yang dipresentasikan terdiri dari photography, video, dan karya interaktif.

Project_or is an independent organization, founded in 2004 at Universitas Negeri Jakarta. Initiated by Arif Rahman, MG Pringgotono, Yudhi Pramudia, Agus Jemat, JJ Adibrata, M. Sigit, & RM Herwibowo. Focused on art activities, specifically visual art. Project_or main activity is created art project incorporation with many individuals, and also other art & culture organization.


Workshop “Playing” at Public Waiting Space

Oktober 10, 2008

Workshop Presentation & Artist’ Talk/Presentasi Workshop & Artist’ Talk about.workshop..
Thursday, 10 August 2006 (15.00)
Kamis, 10 Agustus 2006 (15.00)
Presentation and discussion: Workshop “Playing” at Public Waiting Space
Speaker: Ardi Yunanto, MG Pringgotono & workshop participants
Presentasi dan diskusi Workshop “Bermain” di Ruang Tunggu Publik
Pembicara: Ardi Yunanto, MG Pringgotono & peserta workshop

reed more klik: http://www.ruangrupa.org/home/archives/2006/jakarta32/j32c2006.html


Mural @ parc

Oktober 2, 2008

   

with ale ma bro!


copy paste

Oktober 2, 2008


cv

Oktober 2, 2008

MG Pringgotono
Lahir di Jakarta tahun 1980. Sekarang tinggal dan bekerja di Jakarta. Kuliah di UNJ jurusan senirupa . Merupakan salah satu pendiri SERRUM,sebuah kelompok senirupa di Jakarta.

PENGALAMAN BERKESENIAN
2000 – Pameran “cihui” di studio pour-selen
        - Pameran kressek 1 di unj
2001 – Pameran tunggal “see, think,do” di frigal
        - Pameran airbrush di mall ambassador
2003 – Pameran seniman keramik muda Indonesia di Galeri Nasional Indonesia
2004 – Pameran Jakarta 32 c di Galeri Nasional Indonesia
         -  Pameran tiga kota di Bandung
         -  Pameran kresser 2 di UNJ
        -  Pameran “eye lotion” di ruangrupa
2005 – Pameran mahasiswa senirupa Indonesia “aku bermain maka aku ada” di Galeri Nasional
Indonesia- Partisipan pameran mural WA project di gallery aksara, artist collaborative with Oliver  Milagu (French)
2006 – Pameran  Jakarta 32 c #2 di Galeri Nasional Indonesia
   - Pameran “lets the kids play ”di ruangrupa

   - Artist collaborative dengan Renne Hayasi (Mexico); Playground Project at street house “sanggar anak Akar”


airbrush painting

Oktober 2, 2008


Let The Kids Play

Oktober 1, 2008

   

ruangrupa & Sanggar Anak ‘Akar’, presents:
LET THE KIDS PLAY
[a workshop about playground in the city of Jakarta]
ramps with constructional hill, photography, video, modul, sketch, text.
15 Mei – 18 Juni 2006

“If they are not meant for children, they are not meant for citizen either.
If they are not meant for citizens – ourselves – they are not cities.”
-
Aldo van Eyck

Development of Jakarta especially the public space and the development of technology has a lot impact changing how kids nowadays playing. Many new games causing a lack of social and physical interactions, this also happen because lack of playground as a public space in Jakarta. This workshop will discuss every aspect about how important playground in the city, with the goal to make a design or redesigning new playground for kids. The focus will be how to make a playground that suitable with the progress of games nowadays.

 
Artists:
Rene Hayashi [Artist - Mexico City]
MG. Pringgotono [Artist - Jakarta]
along with: Murki Aziz Fikri [Sanggar Anak 'Akar' - Jakarta]

Every individual actually has the ability to take important roles influencing the growth and the shape of the city. Development of Jakarta, especially the public space, and the development of technology hold a big role in changing how kids play nowadays. These days, many new games cause lack of social and physical interactions. Such thing happened because of lack of public space in Jakarta, The purpose of the workshop is to design or redesign new playgrounds for kids, which relates to its functions and creates balance in a way to have continuity around children’s activities and games as an initiative way to develop their adaptive and creative act of playing.

exhibition – open dialy at ruangrupa: 12 – 18 June 2006 (12.00 – 19.00)


orang utan statue painting

Oktober 1, 2008

 


eyelotion

Oktober 1, 2008

  


anusual identity (1 day live performance)

Oktober 1, 2008

 

mg become arman

arman become ombow

ombow become jj

jj become yansen

yansen become mg


its Bima, my father

Oktober 1, 2008


cat air 2001

Oktober 1, 2008

2001, pameran cat air uhuy jadul


frot row

Oktober 1, 2008


let share

Oktober 1, 2008


Desember 17, 2007

IMG_9085


mg pringgotono

Juni 24, 2007

untitled-5.jpg


Hello world!

Juni 24, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!