sumber : Sinar Harapan (Copyright © Sinar Harapan 2003)
Benda Sehari-hari
Berbeda dengan Andry, MG Pringgotono yang berasal dari Jakarta banyak menggunakan peralatan sehari-hari yang terdapat dalam sebuah rumah. Sederhana memang. Laki-laki berusia 22 tahun tersebut membuat sebuah benda menjadi karya seni hanya dengan memindahkan tempat benda tersebut. Semua tanpa menjadikan eksotisme tahun ’60-an tentang pertarungan antara benda yang seni dan yang bukan seni, tentang menemukan benda sehari-hari yang kemudian terasa menggemaskan dan mempunyai arti berbeda jika berada di galeri. Semua benda sehari-hari menjadi sebuah karya seni karena konteks ”pindah ruang”-nya.
Lihatlah bagaimana sebuah panci besar dengan kolak pisang di dalamnya terpajang di ruangan itu. Biasa saja. Pada awalnya mungkin terlihat sebagai suguhan untuk para pengunjung. Tapi lihatlah perbedaannya ketika diletakkan sikat kamar mandi dan diletakkan di sebuah meja khusus. Panci, kolak pisang, dan sikat kamar mandi punya fungsi sendiri-sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi bagaimana jika si sikat diletakkan di kolak? Katakanlah semua persepsi. Orang melihat sikat kamar mandi hanya berkaitan dengan kamar mandi. Begitu benda tersebut dicampur pada makanan, sikat kamar mandi tersebut menjadi sangat tidak pantas. Kesan jijik bercampur tak higienis timbul. Orang akan kehilangan selera melihatnya meski sikat tersebut baru dan telah melalui proses steril yang cukup panjang. Berbeda jika sikat kamar mandi tersebut diganti dengan sendok sayur, misalnya, tentu kesan yang ditimbulkan berbeda.
Barisan patung tentara yang dipasang hingga berakhir pada sebuah patung komandan ternyata memiliki arti tersendiri. Mereka diciptakan untuk mengarahkan masyarakat menuju sesuatu yang diinginkan. Misalnya pengarahan bagi masyarakat untuk menggunakan produk cairan antiseptik sebelum memegang makanan. Apa sebenarnya kandungan cairan itu? Apakah benar-benar dapat menghilangkan kuman? Padahal, di dalam mulut manusia terdapat enzim yang justru dapat membunuh kuman. Jadi, pentingkah cairan tersebut bagi kesehatan manusia? Tapi sang produsen justru berhasil melakukan sesuatu yang menggiring masyarakat untuk menggunakan produk tersebut. Sekali lagi, ini hanya sebuah contoh persepsi terhadap sebuah karya, setiap orang bebas memberikan arti pada setiap benda di ruangan tersebut. (str/mila novita)
baca selengkapnya http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/05/hib01.html