Membangun Komunitas yang ‘Nakal’ dan Mandiri

sumber :http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MTk5OA==

Media Indonesia, Rabu, 14 Mei 2008 00:05 WIB

SHARE dan room, itulah kata yang membentuk Serrum, sebuah komunitas seni di Jakarta. Filosofinya, dengan ruang berbagi, mencoba mencari penawarnya (seperti serrum dalam arti kata sebenarnya, penawar racun).
Dunia kampus memang tak bisa dilepaskan dari mereka yang mendirikan Serrum. Pasalnya, semuanya adalah para penghuni tetap kampus. Sebelum mendirikan Serrum, mereka sering berkumpul, kuliah, tidur, hura-hura, digigit nyamuk, pokoknya susah senang bareng di tempat yang sama, yaitu kampus di Jurusan Seni Rupa UNJ. Mereka pun sering bikin acara pameran, art project, coret-coret, dan hura-hura di kampus. Kegiatan yang sering dilakukan mereka sebut dengan ‘bikin gara-gara’.

Edukasi dan sosial
Pertama kali Serrum terbentuk, dengan membentuk susunan departemen ala kadarnya, seperti ada departemen cetak dan noncetak, departemen komersial dan nonkomersial, serta bendahara. Tetapi sekarang sudah cukup berkembang dengan dilaksanakannya berbagai kegiatan. Serrum ada disebabkan dua program terdahulunya yaitu propagraphic movement dan project_or, mungkin kalau untuk idealisme dalam seni mereka pertahankan kedua program tersebut. Namun, untuk saat ini program Serrum bertambah ke idealisme untuk edukasi dan sosial.
Untuk art project, kerja samanya beberapa kali dengan Ruangrupa, Galeri Nasional, teman-teman di Scene Street Art Jakarta, pusat kebudayaan seperi CCF dan Goethe Institute, kemudian beberapa kali bekerja sama dengan Walhi, Jatam, Plan, Pec, dan IGJ.
Anggota Serrum pada awalnya ada MG Pringgotono, Arief Kurniawan (sekarang sedang tinggal sementara di Belanda), Arief Rachman (sudah lulus jadi Spd), RM Herbowo, JJ Adibrata, M Sigit Budi S, dan Gunawan Wibisono kemudian bertambah oleh Winanda Suciyadi, Ronald Qodariansyah, Wawan Setiawan, dan Luthfie Sabdakir.

baca selanjutnya…..

—————————————————————————

SHARE dan room, itulah kata yang membentuk Serrum, sebuah komunitas seni di Jakarta. Filosofinya, dengan ruang berbagi, mencoba mencari penawarnya (seperti serrum dalam arti kata sebenarnya, penawar racun).
Dunia kampus memang tak bisa dilepaskan dari mereka yang mendirikan Serrum. Pasalnya, semuanya adalah para penghuni tetap kampus. Sebelum mendirikan Serrum, mereka sering berkumpul, kuliah, tidur, hura-hura, digigit nyamuk, pokoknya susah senang bareng di tempat yang sama, yaitu kampus di Jurusan Seni Rupa UNJ. Mereka pun sering bikin acara pameran, art project, coret-coret, dan hura-hura di kampus. Kegiatan yang sering dilakukan mereka sebut dengan ‘bikin gara-gara’.
Dari beberapa kegiatan yang dibuat selama di kampus, propagraphic movement dan project_or lebih diminati publik. Pasalnya, kedua kegiatan itu lebih bergerak pada bidang sosial, politik, dan budaya termasuk pendidikan. Karena itu pula, kedua kegiatan tersebut menjadi program rutin sampai terbentuknya Serrum.
Saat kampus sudah terasa disetubuhi, ada rasa ketidakpuasan dengan movement yang dilakukan. Didorong rasa jengah dan faktor usia pula mereka ingin membuat movement yang lebih ‘nakal’ dan mandiri dalam arti selama di kampus art project selalu dilatarbelakangi oleh kampus, seakan-akan kampus membantu mendanai dan mem-backup mereka, kenyataannya tidak.
Yang menyatukan mereka adalah seni. Semua belajar, berkumpul, dan bertemu atas dasar ketertarikan dengan seni, awalnya hanya senang menggambar, sampai pada akhirnya dipertemukan dengan lingkup dan kenyataan pada apa itu seni sebenarnya.
Kegiatan Serrum lebih condong kepada art project dan edukasi. Hal itu disebabkan anggota Serrum adalah perupa dan guru. kedua hal tersebut dekat dengan kami. Karena itu juga, kami memilih konteks yang akrab dengan kami sehari-hari.
Media seni memang kami jadikan sebagai alat untuk mengkritik lewat visual, namun tidak selalu tertuju untuk pemerintah, masyarakat sekitar atau lingkungan pun kita akan kritik.
Tetapi, memang ada karya seni yang hanya menjadi instrumen hegemoni yang membuat ilusi-ilusi dan fantasi yang kemudian secara tidak disadari membuat penikmat lupa terhadap realitas sosial di sekitarnya karena keindahan dan kesan-kesan yang dibawa dan ditawarkannya.
Kondisi sosial seperti itulah yang menjadi bahan kajian dalam mewujudkan karya seni yang dilakukan Serrum dalam bentuk project-or atau propagraphic movement.

Edukasi dan sosial
Pertama kali Serrum terbentuk, dengan membentuk susunan departemen ala kadarnya, seperti ada departemen cetak dan noncetak, departemen komersial dan nonkomersial, serta bendahara. Tetapi sekarang sudah cukup berkembang dengan dilaksanakannya berbagai kegiatan. Serrum ada disebabkan dua program terdahulunya yaitu propagraphic movement dan project_or, mungkin kalau untuk idealisme dalam seni mereka pertahankan kedua program tersebut. Namun, untuk saat ini program Serrum bertambah ke idealisme untuk edukasi dan sosial.
Untuk art project, kerja samanya beberapa kali dengan Ruangrupa, Galeri Nasional, teman-teman di Scene Street Art Jakarta, pusat kebudayaan seperi CCF dan Goethe Institute, kemudian beberapa kali bekerja sama dengan Walhi, Jatam, Plan, Pec, dan IGJ.
Anggota Serrum pada awalnya ada MG Pringgotono, Arief Kurniawan (sekarang sedang tinggal sementara di Belanda), Arief Rachman (sudah lulus jadi Spd), RM Herbowo, JJ Adibrata, M Sigit Budi S, dan Gunawan Wibisono kemudian bertambah oleh Winanda Suciyadi, Ronald Qodariansyah, Wawan Setiawan, dan Luthfie Sabdakir.

Tinggalkan Balasan